Nilai industri e-commerce Indonesia pada 2020 mencapai U$40 miliar dan diprediksi akan meroket menjadi US$88 miliar pada 2025.

Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan agregator logistik Shipper Indonesia menilai tren belanja secara daring atau online yang terus meningkat saat ini turut memengaruhi kebutuhan logistik dan gudang bagi para pengusaha. Co-Founder dan COO Shipper Indonesia Budi Handoko mengatakan pesatnya pertumbuhan e-commerce telah menciptakan peluang dan tantangan besar di dunia logistik dalam satu tahun terakhir.

"Bagi Shipper, peningkatan ini telah membantu pertumbuhan bisnis kami dimana perusahaan dapat mencapai pertumbuhan pendapatan 6 kali lipat pada akhir tahun 2020," katanya, Selasa (21/12/2021). Pebisnis Diminta Waspada Menurut Budi, nilai industri e-commerce Indonesia pada 2020 mencapai U$40 miliar dan diprediksi akan meroket menjadi US$88 miliar pada 2025.

Hal ini, merupakan kabar baik bagi para pelaku startup logistik di Indonesia yang berusaha menjangkau cakupan rantai logistik di Indonesia. Namun begitu, dia menyebut salah satu masalah yang muncul di tengah maraknya e-commerce saat ini adalah biaya pengiriman.

Pelanggan sering mengeluhkan tingginya biaya pengiriman saat melakukan transaksi online tersebut.  "Kami melihat tingginya biaya logistik dan penyebaran layanan yang belum merata masih menjadi tantangan utama. Jika pemerintah dapat menekan biaya logistik bagi jutaan usaha kecil, maka ekonomi nasional akan tumbuh lebih baik.

Peran logistik di Indonesia cukup besar karena pangsa pasar pendapatan jasa logistik saat ini mencapai US$221 miliar," sebutnya. Lebih lanjut Budi mengaku, Shipper akan terus beradaptasi dan memanfaatkan peluang besar dalam mendukung pertumbuhan ekonomi digital Indonesia di sektor logistik dalam jangka panjang.

Perusahaan, sambungnya, memiliki visi untuk menurunkan biaya logistik dan meningkatkan efisiensi sehingga target pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa tercapai lebih mudah dan cepat.

"Terkait hal ini, kami akan fokus pada sektor logistik dan pergudangan yang mencakup layanan end-to-end mulai dari first mile, warehouse & fulfilment, last mile delivery & cross-border, serta reverse logistics," ucapnya.

Dia menambahkan, Shipper akan terus berinovasi untuk memastikan layanan berjalan dengan lancar dan menciptakan kemajuan dalam transaksi untuk menjalankan perangkat lunak perusahaan dengan baik.  Transformasi logistik berbasis platform logistik 4.0 ini, imbuh Budi, juga diharapkan dapat mendorong perubahan metode dan cara pertukaran data antarekosistem logistik menjadi lebih efisien.

"Jadi, yang sebelumnya menggunakan pertukaran data bilateral, sekarang menjadi platform digital, sehingga akan meningkatkan keamanan dan kemudahan akses pada informasi end-to-end rantai pasok," tutupnya. Sebagai informasi, hingga akhir 2021, Shipper telah melayani lebih dari 35 kota dan 300 gudang serta memiliki lebih dari 600.000 m2 area pergudangan yang dikelola dan dengan total karyawan lebih dari 1.900 orang.

Shipper melakukan digitalisasi untuk mempercepat evolusi e-commerce dan inovasi logistik di Indonesia untuk melanjutkan bisnis pergudangan ini. Salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan membangun aplikasi gudang pintar.  Bukan itu saja, Shipper juga mengaplikasikan teknologi Application Programming Interface (API), sebuah interface yang dapat menghubungkan aplikasi satu dengan aplikasi lainnya. (Author: Rahmi Yati | Editor : Muhammad Khadafi |Red).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *